Senin, 19 Oktober 2026 09:10 Podomoro Feedmill
Harga telur ayam ras menjadi salah satu hal yang paling diperhatikan oleh peternak, pedagang, dan masyarakat Indonesia sepanjang tahun 2026. Perubahan harga dapat terjadi dalam waktu singkat. Pada saat tertentu, harga telur naik karena permintaan meningkat, tetapi pada waktu lain harga justru turun meskipun biaya produksi tetap tinggi. Fenomena ini bukan sekadar persoalan mahal atau murahnya telur di pasar. Ada sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan harga, mulai dari jumlah produksi ayam petelur, biaya pakan, permintaan konsumen, hingga distribusi telur antardaerah.
Penyebab Harga Telur Ayam Naik Turun
Produksi Telur Yang Berlebihan
Salah satu penyebab utama turunnya harga telur adalah jumlah produksi yang lebih besar daripada kebutuhan
pasar. Pada 2026, Kementerian Pertanian menyampaikan bahwa peningkatan populasi ayam petelur dan kelebihan pasokan menjadi salah satu pemicu anjloknya harga di tingkat peternak. Produksi nasional yang terkonsentrasi di Pulau Jawa juga membuat persaingan penjualan semakin ketat di daerah sentra produksi.
Ketika banyak peternak menghasilkan telur dalam jumlah besar secara bersamaan, pedagang memiliki lebih banyak pilihan pemasok. Akibatnya, peternak terkadang harus menurunkan harga agar telurnya segera terjual. Sebaliknya, ketika produksi berkurang sementara kebutuhan pasar tetap tinggi, harga telur berpotensi naik.
Permintaan Pasar Tidak Selalu Stabil
Permintaan telur dapat berubah mengikuti aktivitas masyarakat, kebutuhan industri makanan, program penyediaan makanan, dan momen tertentu dalam kalender. Pada periode menjelang hari raya, misalnya, kebutuhan telur dapat meningkat karena masyarakat dan pelaku usaha makanan memproduksi lebih banyak kue serta hidangan. Namun, besarnya kenaikan permintaan berbeda-beda di setiap daerah dan tidak selalu terjadi setiap tahun.
Sebaliknya, ketika daya beli melemah atau penyerapan telur oleh pedagang dan pelaku usaha makanan melambat, penjualan bisa menurun. Jika produksi tetap tinggi, stok telur menumpuk dan harga di tingkat peternak berpotensi tertekan. Keseimbangan antara penawaran dan permintaan inilah yang menjadi salah satu penentu utama harga telur.
Harga Pakan Menentukan Besar Kecilnya Keuntungan Peternak
Pakan merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam usaha ayam petelur. Bahan baku seperti jagung, bungkil kedelai, serta sumber protein dan energi lainnya sangat memengaruhi biaya produksi. Ketika harga bahan baku pakan naik, biaya untuk menghasilkan setiap kilogram telur ikut meningkat. Akan tetapi, kenaikan biaya tersebut tidak otomatis membuat harga jual telur naik.
Jika pasokan telur melimpah, peternak mungkin tetap harus menjual dengan harga rendah meskipun biaya pakan meningkat. Kondisi ini dapat menyebabkan keuntungan menipis atau bahkan kerugian. Sebaliknya, jika harga telur naik sementara biaya produksi terkendali, margin keuntungan peternak dapat membaik. Oleh karena itu, peternak perlu menghitung harga pokok produksi secara berkala, bukan hanya mengikuti harga jual yang berlaku di pasar.
Perbedaan Harga Di Tingkat Peternak Dan Konsumen
Harga telur yang diterima peternak tidak selalu sama dengan harga yang dibayar konsumen. Setelah keluar dari kandang, telur biasanya melewati beberapa tahapan, seperti pengumpulan, penyortiran, pengemasan, pengangkutan, dan penjualan melalui pedagang atau pengecer. Setiap tahapan dapat menimbulkan biaya tambahan.
Jarak pengiriman, kondisi jalan, ketersediaan kendaraan, biaya tenaga kerja, dan risiko kerusakan juga memengaruhi harga akhir. Akibatnya, ketika harga telur di tingkat peternak turun, harga di pasar belum tentu ikut turun dengan besaran yang sama atau pada waktu yang sama. Sebaliknya, kenaikan harga di tingkat konsumen juga tidak selalu berarti keuntungan peternak meningkat. Perbedaan ini penting dipahami agar perubahan harga tidak hanya dilihat dari satu sisi.
Distribusi Telur Antardaerah Belum Tentu Seimbang
Indonesia memiliki daerah yang menjadi sentra produksi telur dan daerah lain yang masih bergantung pada pasokan dari luar wilayahnya. Ketika produksi terkonsentrasi di suatu daerah, kelebihan pasokan dapat menekan harga setempat. Sementara itu, wilayah yang membutuhkan pengiriman telur dari daerah lain bisa menghadapi harga lebih tinggi karena biaya transportasi dan distribusi.
Dengan demikian, harga telur di Jawa Timur, Jawa Tengah, atau Jawa Barat tidak harus sama dengan harga di wilayah Indonesia bagian timur. Kelancaran distribusi dan hubungan perdagangan antardaerah berperan penting dalam menjaga keseimbangan pasokan serta mengurangi kesenjangan harga.
Persaingan Harga Antarpedagang Dan Peternak
Telur merupakan produk yang dihasilkan hampir setiap hari dan harus segera dipasarkan agar kualitasnya tetap terjaga. Ketika stok menumpuk, peternak dan pedagang dapat berlomba menawarkan harga lebih murah untuk mempercepat penjualan. Jika banyak pelaku usaha melakukan hal yang sama, persaingan harga dapat semakin menekan harga di tingkat kandang.
Situasi ini menjadi lebih sulit bagi peternak kecil yang memiliki keterbatasan modal dan tempat penyimpanan. Mereka mungkin tidak memiliki cukup dana untuk menahan penjualan sambil menunggu harga membaik. Karena itu, kerja sama pemasaran, koperasi peternak, dan kontrak pembelian dengan pelanggan tetap dapat membantu mengurangi ketergantungan pada penjualan harian di pasar terbuka.
Program Pemerintah Dan Perubahan Pola Konsumsi
Kebijakan pangan serta program penyediaan makanan dalam skala besar dapat memengaruhi pola penyerapan telur, terutama jika pengadaan dilakukan langsung dari peternak lokal. Pada 2026, pemerintah mendorong peningkatan penyerapan telur dan perbaikan distribusi dari daerah surplus ke daerah yang membutuhkan pasokan. Langkah tersebut bertujuan membantu menjaga harga di tingkat produsen sekaligus memenuhi kebutuhan konsumen.
Namun, dampak suatu program terhadap harga bergantung pada jumlah telur yang benar-benar terserap, lokasi pembelian, jadwal pengadaan, dan kemampuan distribusi. Program yang meningkatkan permintaan di satu wilayah belum tentu langsung mengatasi kelebihan pasokan di semua sentra produksi. Oleh sebab itu, keseimbangan pasar tetap membutuhkan perencanaan produksi, penyerapan yang konsisten, serta distribusi yang efisien.