Sabtu, 24 Oktober 2026 08:10 Podomoro Feedmill
Penyakit Keluron Menular atau Brucellosis merupakan salah satu penyakit ternak menular strategis yang sangat ditakuti dalam industri peternakan sapi perah. Disebabkan oleh bakteri genus Brucella, khususnya Brucella abortus pada sapi penyakit ini tidak hanya mendatangkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi peternak, tetapi juga berpotensi menular ke manusia (zoonosis).

Dampak Utama Brucellosis pada Sapi Perah
Pada sapi perah, keguguran (abortus) berulang dan penurunan produktivitas susu menjadi tanda khas dari serangan bakteri ini.
Keguguran pada Usia Kebuntingan Tua
Ciri klinis paling menonjol dari Brucellosis adalah keguguran pada periode trimester akhir kebuntingan, biasanya terjadi pada usia kebuntingan 5 hingga 8 bulan. Fetus yang digugurkan umumnya dalam keadaan mati, disertai kondisi selaput plasenta yang membengkak atau tidak lepas (retensi plasenta/retensio secundinarum).
Penurunan Produksi Susu secara Drastis
Sapi perah yang terinfeksi sering kali mengalami penurunan produksi susu secara mendadak. Infeksi bakteri pada kelenjar ambing dapat memicu peradangan (mastitis kronis), sehingga ambing gagal mencapai puncak laktasi yang optimal.
Gangguan Reproduksi dan Kemajiran
Sapi betina yang pernah mengalami keguguran akibat Brucellosis cenderung mengalami kemajiran temporal maupun permanen (gangguan kesuburan). Hal ini memperpanjang calving interval (jarak beranak) dan merusak siklus reproduksi di dalam kawanan.
Gejala pada Sapi Jantan
Meskipun penyebarannya lebih sering diteliti pada betina perah, sapi jantan pemacak yang terinfeksi dapat mengalami orchitis (peradangan testis) dan epididymitis, yang berujung pada pembengkakan skrotum serta penurunan kualitas sperma.
Jalur Penularan di Lingkungan Peternakan
Bakteri Brucella abortus sangat mudah menyebar melalui beberapa media berikut:
Cairan Abortus dan Plasenta: Cairan janin, jaringan plasenta, serta spesimen fetus dari sapi yang keguguran mengandung konsentrasi bakteri yang sangat tinggi.
Pakan dan Air Minum Terkontaminasi: Kontak langsung ternak sehat dengan pakan atau air yang telah tercemar cairan reproduksi sapi terinfeksi.
Inseminasi Buatan (IB) & Perkawinan Alami: penggunaan semen ternak jantan terinfeksi atau lewat perkawinan alami dapat menularkan bakteri secara langsung.
Susu Induk: Pedet yang menyusu pada induk yang terinfeksi Brucellosis dapat tertular secara langsung.
Penularan pada Manusia
Brucellosis adalah infeksi zoonotik. Manusia dapat tertular melalui beberapa mekanisme utama:
Mengkonsumsi Susu Mentah: Mengonsumsi susu sapi perah yang belum dipasteurisasi atau diolah dengan pemanasan standar.
Kontak Langsung: Peternak, anak kandang, atau dokter hewan yang memegang plasenta, cairan kelahiran, atau jaringan fetus tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti sarung tangan karet.
Gejala pada Manusia: Penderita Brucellosis pada manusia (Undulant Fever) mengalami demam naik-turun yang berulang, lemas, nyeri sendi/otot, berkeringat di malam hari, hingga komplikasi peradangan organ jika tidak segera ditangani antibiotik.
Langkah Pencegahan dan Pengendalian
Karena pengobatan antibiotik pada ternak yang terinfeksi kurang efektif dan tidak dianjurkan secara ekonomi maupun teknis medis (karena sifat bakteri yang menginfeksi sel/intraseluler kronis), fokus utama manajemen Brucellosis terletak pada pencegahan dan biosekuriti.
Karantina dan Pemisahan Sapi Baru
Sebelum memasukkan sapi perah baru ke dalam kandang utama, lakukan karantina dan pengujian serologis (seperti uji RBT/Rose Bengal Test dan CFT/Complement Fixation Test).
Isolasikan Sapi yang Mengalami Keguguran
Jika ada sapi yang menunjukkan tanda-tanda keguguran, segera pisahkan dari kelompoknya. Kubur atau bakar fetus serta plasenta yang keluar, lalu desinfeksi area kandang secara menyeluruh menggunakan antiseptik/desinfektan berbasis fenol atau amonium kuartener.
Pelaksanaan Program Vaksinasi
Di daerah endemik, vaksinasi Brucellosis (seperti vaksin Brucella abortus Strain 19 atau RB51) pada sapi dara/pedet betina sangat penting untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).
Sanitasi dan Pasteurisasikan Susu
Pastikan kebersihan alat perah dan lingkungan kandang terjaga dengan baik. Bagi peternak dan konsumen, wajib memasak atau mempasteurisasi susu sebelum dikonsumsi untuk membunuh bakteri.
Brucellosis pada sapi perah merupakan ancaman serius yang merusak efisiensi reproduksi, menurunkan suplai susu, dan mengintai kesehatan peternak. Penerapan biosekuriti yang ketat, pengujian berkala, serta penanganan kebersihan susu secara tepat adalah kunci utama dalam menjaga keberlanjutan usaha peternakan sapi perah