Sabtu, 22 Agustus 2026 09:08 Podomoro Feedmill
Shipping fever merupakan salah satu gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai pada sapi, terutama setelah mengalami perjalanan jauh, perpindahan kandang, atau perubahan lingkungan secara mendadak. Kondisi ini sering dikaitkan dengan Bovine Respiratory Disease Complex (BRDC) atau kompleks penyakit pernapasan pada sapi.

Meskipun dikenal sebagai “demam perjalanan”, shipping fever bukan sekadar demam biasa. Kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius yang menurunkan nafsu makan, pertambahan bobot badan, bahkan menyebabkan kematian apabila tidak segera ditangani.
A. Apa Itu Shipping Fever?
Shipping fever adalah penyakit pernapasan yang sering muncul setelah sapi mengalami stres akibat transportasi, pencampuran kelompok, perubahan pakan, cuaca, dan lingkungan baru. Stres tersebut dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga mikroorganisme yang sebelumnya berada di saluran pernapasan dapat berkembang lebih cepat.
Penyakit ini umumnya melibatkan kombinasi antara faktor stres, infeksi virus, dan infeksi bakteri. Bakteri seperti Mannheimia haemolytica, Pasteurella multocida, dan Histophilus somni dapat berperan dalam memperparah kondisi saluran pernapasan.
B. Mengapa Shipping Fever Sering Terjadi Setelah Transportasi?
Perjalanan jauh dapat menjadi tekanan besar bagi sapi. Selama transportasi, sapi dapat mengalami kelelahan, kepadatan tinggi, perubahan suhu, kurang istirahat, serta paparan debu dan udara dengan kualitas buruk. Selain itu, proses transportasi dan pencampuran sapi dari kelompok berbeda dapat meningkatkan peluang penularan patogen.
Ketika kondisi tubuh menurun, sistem pertahanan saluran pernapasan menjadi lebih lemah sehingga infeksi lebih mudah berkembang. Risiko semakin tinggi apabila sapi tiba di tempat baru dengan kondisi kandang yang kurang nyaman, ventilasi buruk, kelembapan tinggi, atau mengalami perubahan pakan secara mendadak.
C. Gejala Shipping Fever pada Sapi
Gejala dapat muncul beberapa hari setelah sapi mengalami stres atau transportasi. Tanda-tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Demam dan suhu tubuh meningkat.
2. Nafsu makan menurun atau sapi tidak mau makan.
3. Lesu dan lebih banyak diam.
4. Keluar cairan dari hidung yang awalnya bening dan dapat menjadi lebih kental.
5. Batuk, terutama saat sapi bergerak atau berdiri.
6. Napas cepat atau sesak.
7. Hidung mengembang dan kepala sering diturunkan saat mengalami kesulitan bernapas.
8. Produksi menurun, terutama pada sapi yang sedang berproduksi.
9. Pada kasus berat, sapi dapat mengalami pneumonia dan kondisi tubuh semakin lemah.
Perubahan perilaku setelah sapi tiba di kandang harus segera diperhatikan. Sapi yang terlihat murung, tidak mau makan, dan mulai menunjukkan gangguan pernapasan sebaiknya segera dipisahkan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
D. Faktor Risiko yang Harus Diwaspadai
Shipping fever tidak hanya disebabkan oleh perjalanan. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya, seperti:
1. Stres transportasi. Perjalanan jauh, waktu perjalanan panjang, dan penanganan yang kasar dapat memperburuk stres.
2. Perubahan lingkungan. Perpindahan dari satu daerah ke daerah lain dapat membuat sapi harus beradaptasi dengan suhu, kelembapan, dan kualitas udara yang berbeda.
3. Ventilasi kandang buruk. Udara yang pengap, kadar amonia tinggi, dan debu berlebihan dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan.
4. Pencampuran sapi. Sapi dari kelompok berbeda dapat membawa mikroorganisme yang sebelumnya belum dikenal oleh kelompok lainnya.
5. Status kesehatan yang buruk. Sapi dengan kondisi tubuh lemah atau memiliki penyakit lain lebih rentan mengalami komplikasi.
E. Dampak Shipping Fever bagi Peternak
Shipping fever dapat memberikan kerugian ekonomi yang cukup besar. Sapi yang sakit akan mengalami penurunan konsumsi pakan dan performa pertumbuhan. Pada sapi bakalan, kondisi ini dapat menyebabkan pertambahan bobot badan lebih lambat.
Selain itu, biaya pengobatan dan perawatan meningkat. Bila penyakit berkembang menjadi pneumonia berat, risiko kematian juga semakin besar. Kerugian dapat semakin tinggi karena masa pemulihan sapi menjadi lebih panjang.
F. Cara Mencegah Shipping Fever
Pencegahan sebaiknya dilakukan sejak sebelum sapi dikirim hingga beberapa hari setelah tiba di kandang baru.
1. Pastikan sapi dalam kondisi sehat sebelum transportasi
Sapi yang sedang sakit, terlalu lemah, atau mengalami gangguan pernapasan sebaiknya tidak dipaksakan untuk melakukan perjalanan.
2. Kurangi stres selama perjalanan
Gunakan kendaraan yang sesuai, hindari kepadatan berlebihan, dan lakukan penanganan sapi dengan tenang.
3. Perhatikan waktu dan kondisi perjalanan
Hindari perjalanan ketika kondisi cuaca sangat ekstrem. Pastikan sapi memiliki sirkulasi udara yang baik selama pengangkutan.
4. Berikan waktu adaptasi setelah tiba
Setelah perjalanan, sapi perlu mendapat waktu istirahat dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
5. Sediakan air minum yang cukup dan berkualitas
Dehidrasi dapat memperburuk kondisi tubuh sapi setelah transportasi.
6. Jaga kualitas kandang
Pastikan kandang memiliki ventilasi yang baik, tidak terlalu lembap, dan memiliki kadar debu serta amonia yang rendah.
7. Lakukan pemantauan intensif
Periksa nafsu makan, suhu tubuh, aktivitas, batuk, dan kondisi pernapasan sapi terutama pada beberapa hari pertama setelah kedatangan.
8. Pisahkan sapi yang menunjukkan gejala
Sapi yang mengalami batuk, demam, atau keluar lendir dari hidung sebaiknya segera dipisahkan dan diperiksa agar risiko penyebaran serta keparahan penyakit dapat ditekan.
G. Bagaimana Penanganannya?
1. Penanganan shipping fever harus disesuaikan dengan kondisi sapi dan penyebab yang terlibat. Pada kasus yang dicurigai mengalami infeksi bakteri, dokter hewan dapat menentukan penggunaan antimikroba yang tepat berdasarkan pemeriksaan klinis dan pertimbangan kondisi lapangan.
2. Selain terapi utama, sapi perlu mendapatkan perawatan pendukung berupa air minum yang cukup, pakan yang mudah dikonsumsi, lingkungan nyaman, serta pengurangan stres.
3. Penggunaan antibiotik sebaiknya dilakukan berdasarkan anjuran dokter hewan, terutama karena pemilihan obat, dosis, lama pemberian, serta masa henti obat perlu diperhatikan untuk menjaga keberhasilan terapi dan keamanan produk asal hewan.
Shipping fever memang sering diawali dengan tanda yang terlihat sederhana seperti demam, lesu, dan tidak mau makan. Namun, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi pneumonia berat dalam waktu relatif cepat. Karena itu, pemantauan sapi setelah transportasi menjadi kunci utama. Semakin cepat tanda awal dikenali dan ditangani, semakin besar peluang sapi untuk pulih dan kembali berproduksi dengan baik.
