Jumat, 08 Mei 2026 09:05 Podomoro Feedmill
Dalam industri peternakan sapi, menjaga kesehatan ternak adalah kunci utama stabilitas ekonomi peternak dan keberlanjutan usaha. Salah satu penyakit yang sering menjadi tantangan serius, terutama di daerah beriklim tropis seperti Indonesia yang memiliki kelembapan tinggi, adalah penyakit Mubeng atau yang secara ilmiah dikenal sebagai Surra. Penyakit ini merupakan infeksi darah yang bersifat menahun dan dapat menyebabkan penurunan produktivitas yang drastis hingga kematian mendadak jika tidak ditangani dengan manajemen yang tepat.

A. Apa Itu Penyakit Mubeng (Surra)?
Penyakit Mubeng adalah infeksi parasit darah sistemik yang disebabkan oleh protozoa flagellata bernama Trypanosoma evansi. Nama "Mubeng" sendiri berasal dari istilah bahasa Jawa yang berarti "berputar-putar". Istilah ini merujuk pada gejala klinis unik di mana sapi yang terinfeksi sering kali berjalan berputar-putar tanpa arah yang jelas akibat serangan parasit pada sistem saraf pusat. Penyakit ini tidak hanya menyerang populasi sapi, tetapi juga sangat mematikan bagi kerbau, kuda, dan terkadang dapat menginfeksi hewan peliharaan lainnya.
B. Penyebab dan Jalur Penularan
Penyebab penyakit ini bukanlah bakteri atau virus, melainkan parasit mikroskopis yang hidup dan berkembang biak di dalam plasma darah ternak. Jalur penularan utamanya bersifat mekanis melalui vektor atau serangga perantara berupa lalat penghisap darah, antara lain lalat Tabanus, merupakan lalat pengganggu berukuran besar yang sering ditemukan di sekitar area kandang atau padang penggembalaan terbuka dan Lalat Stomoxys yang dikenal sebagai lalat rumah penghisap darah yang memiliki kemampuan terbang dan berpindah antar inang dengan cepat.
Ketika lalat-lalat ini menghisap darah dari hewan yang sudah terinfeksi dan kemudian berpindah untuk menggigit hewan sehat, parasit Trypanosoma akan ikut berpindah melalui alat mulut lalat dan mulai menginvasi sistem peredaran darah inang baru tersebut.
C. Gejala Klinis
Penyakit ini dapat muncul dalam bentuk akut yang mematikan maupun kronis yang melemahkan. Gejala yang paling menonjol dan perlu diwaspadai oleh peternak meliputi:
1) Gejala Gangguan Saraf (Mubeng)
Sapi menunjukkan gangguan koordinasi gerak yang parah, seperti berjalan berputar-putar secara repetitif, menabrak dinding kandang karena kehilangan arah, atau berdiri mematung dengan kepala ditekan kuat ke benda keras. Fenomena ini terjadi karena parasit telah berhasil menembus barier darah-otak dan menginvasi cairan serebrospinal.
2) Demam Berulang (Intermiten)
Ternak mengalami kenaikan suhu tubuh yang fluktuatif. Fase demam tinggi biasanya bertepatan dengan periode ledakan jumlah parasit (parasitemia) di dalam aliran darah sapi.
3) Penurunan Kondisi Fisik yang Drastis
Sapi akan kehilangan nafsu makan secara perlahan, terlihat lesu, dan mengalami penyusutan berat badan yang sangat ekstrim (emasisasi) meskipun asupan pakan tetap tersedia. Secara visual, bulu ternak biasanya terlihat kusam, kasar, dan berdiri.
4) Anemia dan Edema
Karena parasit ini merusak struktur sel darah merah, membran mukosa pada mata dan mulut sapi akan terlihat pucat atau anemis. Dalam beberapa kasus lanjut, sering ditemukan pembengkakan berisi cairan (edema) pada bagian bawah dada, gelambir, atau area kaki.
D. Dampak Ekonomi bagi Peternak
Penyakit Mubeng adalah musuh bagi efisiensi dan keuntungan peternakan karena dampaknya yang luas, antara lain:
1. Kegagalan Target Bobot: Sapi potong mengalami hambatan pertumbuhan yang signifikan sehingga sulit mencapai target bobot panen tepat waktu.
2. Gangguan Reproduksi: Infeksi kronis dapat memicu terjadinya keguguran (abortus) pada induk yang sedang bunting atau menyebabkan kemandulan sementara pada pejantan maupun betina.
3. Risiko Kematian: Pada fase serangan akut, sapi dapat mengalami kematian dalam waktu singkat setelah gejala saraf pertama kali muncul.
E. Strategi Pengendalian dan Pengobatan
Keberhasilan menangani Surra sangat bergantung pada kecepatan deteksi dini dan kedisiplinan dalam menjaga higiene lingkungan kandang.
1. Intervensi Medis yang Tepat
Pengobatan dilakukan dengan pemberian agen antiprotozoa spesifik, seperti Isometamidium chloride atau Diminazene aceturate, yang wajib dilakukan di bawah pengawasan dokter hewan. Selain obat utama, pemberian terapi suportif berupa vitamin B-kompleks dan suplemen penambah darah sangat disarankan untuk mempercepat regenerasi sel darah merah.
2. Pengendalian Vektor secara Intensif
Karena penularannya melalui lalat, maka memutus rantai vektor adalah langkah wajib. Peternak harus menggunakan insektisida yang aman, memasang jebakan lalat (fly trap), serta memastikan feses tidak menumpuk agar lalat tidak memiliki tempat untuk berkembang biak.
3. Optimalisasi Nutrisi dan Sanitasi
Pastikan sanitasi kandang terjaga agar tetap kering dan memiliki sirkulasi udara yang baik seta berikan asupan nutrisi berkualitas dan tambahan mineral untuk memperkuat sistem imun alami ternak. Sapi dengan daya tahan tubuh yang prima akan jauh lebih resilien terhadap serangan parasit darah.
Penyakit Mubeng atau Surra adalah ancaman nyata yang menuntut perhatian ekstra dari para praktisi peternakan. Dengan mengedepankan prinsip pencegahan melalui pengendalian lalat penghisap darah dan monitoring kondisi fisik ternak secara rutin, risiko kerugian finansial akibat kematian atau penurunan berat badan dapat ditekan seminimal mungkin. Investasi pada kesehatan ternak adalah langkah awal menuju kesuksesan agribisnis yang berkelanjutan.